Panas mentari sangat menyngat menyuntuh kulit, Waktu sudah menunjukkan tepat pukul 10:30 Pagi. Di sebuah komplek perumahan terlihat ada seorang anak yang tengah sibuk mengusap keringat yang bertanda di dahinya, setelahsibuk menawarka dagangannya. Sudah tiga hari ini, Jati menghabiiskan waktu liburannya dengan berjualan susu kedelai buatan ibunya. ia berkeliling di komplek perumahan yang tidak begitu jauh dari kampungnya. Sebelum susu dagangangannya habis, Jati belum mau pulang.
Sekilas terlintas di ingatannya, akan wajah melas adiknya. Asih adik satu - satunya itu sekarang tengah terbaring sakit. Jati memang ingin mengumpulkan uang sekedar untuk membelikan obat untuk adiknya, yang kini sedang terbaring lemah tak berdaya. Hanya itu yang bisa dilakukan Jati. Mengingat ayahnya yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan tidak mampu untuk membawa Asih ke dokter, apalagi rumah sakit.
Dulu Asih pernah di bawa ke rumah sakit karena penyakit radang paru - paru yang di deritanya. Namun, sebelum penyakitnya itu tuntas, Asih pun di bawa pulang karena tak kuat menanggung biaya rumah sakit yang begitu mahal.
"Alhamdulillah, daganganku hari ini laris. Sekarang aku bisa pulang." Gumamnya dalam hati. Sambil menghitung uang yang berhasi ia kumplkannya hari ini. "Dua puluh lima ribu rupiah. Yess, itu tandanya aku bisa menyisihkan sedikit uang untuk membeli obat Asih. Sabar ya, dek. Aku akan terus berdo'a dan berusaha untuk kesembuhanmu. Supaya nanti kita bisa bermain bersama - sama lagi.
Jati terus berjalan menyusuri komplek untuk menuju ke rumahnya. "Ini adalah hari yang menyenangkan bagiku, karena susu buatan kedelai buatan ibu sudah terjual habis. Dan nanti sore aku bisa kembali menjajahkan minuman kesehatan buatan ibu. Dan siang ini aku masih sempat untuk bermain layang - layang bersama teman - teman di lapangan. Sungguh liburan yang sangat menyenangkan." ucapnya perlahan
Di tengah perjalanan pulang, kaki Jati menyampar sebuah dompet "Dompet siapa ya?" tanyanya dengan penuh keheranan. Di bukanya dompet tersebut "Masyaallah, banyak sekali uangnya." seketika tangan Jati menjadi gemetaran. Karena dia belum pernah melihat uang sebanyak itu. Kemudian Dia menoleh kearah kanan dan kiri, tidak ada seorang pun yang berada disana. Keringat panas dingin mendadak bercucuran di dahinya. "Aku belum pernah memegang uang sebanyak ini" gumamnya dalam hati. "Dompet ini punya siapa ya?" Kemudian dia pun memasukkan dompet tersebut kedalam kresek hitam yang saat itu di bawanya.
Di tengah perjalanan, Jati terus membayangkan. Seandainya saja uang ini miliknya, tentu ia dan keluarganya tidak perlu bersusah payah demi kesembuhan adiknya Asih. Di dalam hatinya berbisik. "Ambillah uang itu, toh tidak ada yang tahu kalau kamu menemukan uang itu. Jangan di kembalikan kepada pemiliknya. Pasti ia orang kaya dan bisa dengan mudah mencari uang lagi. Sedangkan kamu? Waktu liburanmu saja kau gunakan untuk berkeliling komplek untuk menjajakan susu kedelai demi selembar uang dua puluh ribuan. Ayo, ambillah. Batin Jati terus bergejolak, namun dia akhirnya beristighfar. "Astaghfirullah, kenapa pikiranku sepicik ini? Bukankah uang ini bukan milikku. Walau pun aku menemukan uang ini tidak ada yang melihat, yang punya pasti sangat merasa kehilangan." Kemudian dia pun akhirnya mempercepat langkahnya agar segera tiba di rumah.
"Assalamualaikum" ucap Jati ketika memasuki gubuk tuanya.
"Waalaikum salam" jawab ibunya.
"Bu, ibu... Aku menemukan ni bu." ucap Jati kepada ibunya yang membukakan pintu.
"Kenapa tho le, kok teriak - teriak? Muka kamu kenapa pucat sekali, Nak?"
"Aku, menemukan dompet, Bu" kata Jata sambil mengulurkan dompet yang di temukannya tadi.
"Dimana kamu menemukannya, Le?" tanya ibunya
"Di komplek perumahan, sepulang aku berjualan, Bu. Aku tidak tahu ada berapa banyak uang di dalam dompet ini, yang pasti banyak sekali, Bu."
Ibunya terkejut mendengar cerita anaknya itu, dengan terengeh - engah Jati pun kembali melanjutkan ceritanya "Aku tidak tahu bu, dompet ini punya siapa. Dan aku belum sempat membuka seluruh isinya. Aku takut, Bu. Di tengah keterbatasan kita, kita menjadi gelap mata dan ingin memiliki yang bukan hak kita, makanya aku bergegas pulang untuk bercerita kepada, Ibu."
Ibunya sangat terkejut setelah melihat isi dompet yang begitu banyak. "Masyaallah, pasti yang punya sangat merasa kehilangan uang ini, Le. Coba kamu lihat dan cari identitas atau tanda pengenal yang berada di dalam dompet itu, Le." Sergah ibu Jati.
"Ini, Bu. Ada KTP dengan nama DR.HERYAWAN SpOG. alamatnya di jl.Melati Blok C Nomer 5A perum Limas. Pasti dompet ini miliknya, Bu"
"Baiklah, mari kita kerumahnya, pasti dokter Heryawan sangat kehilangan."
Bergegas ibunya Jati mematikan kompor di dapurnya. "Air ini sudah mendidih dan nasi juga sudah tersedia, jika nanti ayahmu pulang dan kita tidak ada di rumah semua sudah terhidang. Ibu akan menitip pesan ke Asih, biar nanti jika ayahmu pulang dia tahu kalau kita sedang pergi ke rumah dokter Hermawan." Tukas ibu Jati. Dengan sigap dia membereskan seluruh pekerjaannya di dapur.
"Tapi, Bu" ucap Jati
"Kenapa, Nak? Apa yang kamu pikirkan?"
"Kita kan bisa mengambil beberapa lembar saja dari uang itu. Pemiliknya pasti tidak akan tahu dan dia pasti akan dengan mudah untuk mencarinya kembali. Kan dia orang kaya?" dengan terbata - bata Jati berucap.
"Istighfar, Nak. Allah pasti akan marah jika kita melakukan hal ini. Ingatlah ini bukan milk kita, bukan hak kita, meskipun kita sangat membutuhkannya. Ayolah bergegas kita kerumah pemilik dompet ini. Karena nanti ibu harus menyiapkan susu kedelai untuk kamu jual sore nanti." ucap ibu Jati dengan nada tinggi.
"Astaghfirullah, Baiklah bu." ucap Jati dengan sesal.
Jati dan ibunya berjalan di komplek perumahan Limas untuk mencari alamatdokter Hermawan. Bukan hal sulit bagi Jati dan ibunya untuk menemukan rumah dokter Hermawan. Toh hampir seluruh komplek perumahan ini sudah pernah di jajahi Jati.
"Ini pasti rumahnya bu, dr.Hermawan Jl.Melati Blok C 5A Perum Limas. Wah bagus sekali rumahnya, asri dan sangat bersih."
"Assalamualaikum" Ibunya Jati mengucap salam.
Tidak lama kemudian dibukalah pintu dan terlihat sosok seorang bapak memakai kaca mata.
"Waalaikum salam, ada yang bisa saya bantu, Bu.? Anda mencari siapa?" tanyanya
"Apa benar ini rumah bapak Hermawan?"
"Betul, Bu. Saya dokter Hermawan, silahkan masuk, dan silahkan duduk, Bu."
"Terima kasih" kemudian ibu dan anak itu pun masuk kedalam rumah dokter Hermawan. Mata Jati tidak berhenti - hentinya memandang ke sekeliling ruang tamu dokter Hermawan. "Begini, Pak. Anak saya Jati pagi tadi ketika pulang dari berjualan menemukan dompet ini, Pak. Dan di dalam dompet kami menemukan identitas nama bapak dan sejumlah uang yang kami tidak membuka seluruh isinya" tutur ibu Jati memberikan penjelasan kepada dokter Hermawan.
"Oh, iya. Benar, Bu. Saya memang kehilangan dompet pagi tadi. Isinya identitas saya dan beberapa surat - surat penting. Berarti, Nak Jati ini yang menemukannya." ungkap sang dokter sekaligus pemilik dompet yang di temukan Jati tadi pagi.
"Betul, Pak. Tadi pagi kaki saya menyampar sesuatu. Ternyata itu dompet" ungkap Jati sambil menyerahkan plastik hitam berisikan dompet.
"Iya, benar sekali ini milik saya, Alhamdulillah masih rezeki saya. Isinya juga masih utuh. Terima kasih banyak ya, Nak Jati dan Ibu. Berkat, Nak Jati uang dan surat - surat penting itu masih utuh." ucap dokter heryawan dengan nada bersyukur. "Saya boleh tahu, Ibu tinggal dimana? Dan, Nak Jati berjualan apa di komplek ini?"
"Saya sekeluarga tinggal di kampung sebelah pak. Tidak jauh dari komplek perumahan ini. Dirumah, saya membuat susu kedelai untuk di jual Jati di sekitar komplek ini" Jawab ibu Jati. "Baiklah, Pak. Kami segera pamit." ibu Jati berpamitan.
"Tunggu sebentar, Bu." dokter Heryawan masuk kedalam, dan tidak begitu lama akhirnya dia kembali keluar dengan membawa bungkusan plastik berwarna hitam. "Ini ada sekedar oleh - oleh buat keluarga ibu di rumah dan ini untuk, Nak Jati" dokter Heryawan menyerahkan bungkusan plastik kepada ibu Jati dan menyerahkan amplop kepada Jati.
"Tak usah repot - repot, Pak. Ini sudah menjadi kewajiban kami." jawab ibu Jati sambil berpamitan.
"Tidak apa - apa, Bu. sekedar ucapan terima kasih. Dan saya akan sangat senang jika ibu bersedia menerimanya. Jangan lupa sering - seringlah bertandang ke rumah ini."
"Baiklah, Pak. Terima kasih kami akan segera berpamitan pulang"
:Ya, bu terima kasih kembail. Tapi sebentar bu, biar saya antarkan pulang." ucap sang dokter.
"Tidak usah, Pak. Khawatir merepotkan saja. Sekali lagi terima kasih. Rumah kami juga tidak terlalu jauh kok. Assallamualaikum."
Disepanjang perjalanan pulang, Jati tak henti - hentinya mengucap syukur dan terus berterima kasih. Bukan karena lantaran dia mendapatkan amplop yang di terimanya tadi. Akan tetapi ia bersyukur karena dia telah di berikan seorang ibu yang sangat luar biasa.
Jumat, 01 Mei 2015
Kamis, 30 April 2015
Kisah Nyata - Penerimaan Tanpa Syarat
Saya adalah seorang ibu dari tiga orang anak dan saya juga beru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang di berikan kepada para siswanya di beri nama "SMILING" di mana seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang di temuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setiap siswa di minta untuk mempresentasikan di depan kelas. Saya adalah tipe seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum kepada setiap orang. Jadi, saya pikir tugas ini sangatlah mudah.
Setelah saya menerima tugas tersebut, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang sedang menunggu saya di halaman kampus. Kami berencana mengunjungi sebuah restoran McDonald's yang berada di sekitaran kampus.
Suasana pagi yang sangat dingin dan kering. Pagi itu suami saya sedang ingin mengantri untuk masuk, saya sela dan memintanya agar menjaga si bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya masih dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang yang berada di dalam antrian menyingkir, bahkan yang berada di antrian belakang saya juga. Suatu perasaan panik menguasai saya, ketika saya berbalik dan melihat mengapa mereka menyingkir? Dan di saat itulah saya mencium sebuah aroma yang tidak enak sekali di cium bau badan yang sangat menyengat di indra penciuman saya dan ketika itu juga saya mendapati ada dua orang tunawisma yang sangat dekil!!! Saya, bingung dan tidak mampu bergerak sama sekali. Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menangkap laki - laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya. Laki - laki itu pun kemudian tersenyum kepada saya. Lelaki ini memiliki mata yang sangat biru, sorot matanya begitu tajam, namun tatapan itu juga memancarkan sebuah kasih sayang. Pria itu pun melirik ke saya, seolah - olah dia meminta agar saya mau menerima kehadirannya di tempat itu. Dia pun kemudian menyapa saya "Good day" sambil tetap tersenyum dan menghitung beberapa koiin yang telah di siapkannya untuk membayar makanan yang nanti akan di pesannya. Secara sontan saya pun kemudian membalas senyumannya, kemudian saya pun teringat akan TUGAS yang di berikan oleh dosen saya. Sementara itu lelaki yang kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri tepat di belakang temannya.
Aku pun akhirnya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi menta, dan lelaki yang memiliki mata biru itu adalah penolongnya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian yang tadinya sangat panjang sekarang hanya tinggal kami bertiga dan akhirnya saya pun telah sampai ke counter. Seketika wanita muda di counter itu pun menanyakan kepada saya, apa yang ingin saya pesan. Saya pun mempersilahkan kedua lelaki itu untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir nona." Ternyata dari koin yang telah terkumpul hanya itulah yang mampu di beli oleh mereka. (Ya, memang begitulah peraturan di restoran disini, jika ingin menghangatkan tubuh , maka orang harus membeli sesuatu). Dan kelihatannya orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
Seketika saya di serang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh dari tamu yang lain, yang hampir semua orang sedang mengamati mereka.Pada saat bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke arah saya, dan pasti melihat semua tindakan saya.
Saya baru tersadar ketika petugas counter itu menyapa saya untuk yang ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya kemudian tersenyum dan meminta dua paket makan pagi dalam nampan yang terpisah. Setelah membayar semua pesanan saya, kemudian saya pun meminta bantuan kepada petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja (tempat duduk suami dan anak saya). Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki tadi untuk beristirahat. Saya pun kemudian meletakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, kemudian meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bermata biru itu, sambil saya berucap. "Makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua" Kembali lelaki yang memiliki mata biru itu menatap saya, kini mata itu mulai basah berkaca - kaca dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."
Saya mencoba untuk tetap menguasai diri saya dan menepuk bahunya sambil berkata. "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu kepada saya untuk menyampaikan makanan in kepada kalian." Mendengar ucapan saya, si mata biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak - isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu. Saya pun tidak sanggup lagi menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya yang berada tidak jauh dari tempat duduk mereka.
Saat saya duduk suami saya mencoba meredam tangis saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti untuk memberikan keteduhan bagi diriku dan anak - anakku." Kami pun akhirnya berpegangan tangan. Saat itu kami benar - benar bersyukur dan menyadari bahwa hanya karena 'bisikannya' lah kami telah mampu memanfaatkan kesempatan untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan di susul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami. Salah satu diantaranya, seorang bapak, dia memegangi tangan saya dan berkata "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal kepada kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya di beri kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami" Saya hanya bisa berucap "Terima kasih" sambil tersenyum.
Sebelum beranjak pergi meninggalkan restoran, saya menyempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu dan seolah ada magnit yang menghubungkan bathn kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum dan melambai - lambaikan tangannya kearah kami.
Didalam perjalan pulang, saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua tunawisma tadi, itu benar - benar 'tindakan' yang belum pernah terpikirkan oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali. Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan cerita di tangan saya. Saya kemudian menyerahkan paper saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliah saya di panggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan.
Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswa pun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang dekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya. Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhr paper saya "Tersenyumlah dengan HATImu, dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang di timbulkan oleh senyummu itu."
Dengan caranya sendiri, Tuhan telah menggunakan diri saya untuk menyentuh orang - orang yang ada di McDonald, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapat di bangku kuliah manapun, yaitu. "PENERIMAAN TANPA SYARAT" Banyak cerita tentang kasih sayang yang dapat di tulis untuk bisa di resapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara 'Mencintai sesama, dengan memanfaatkan sedikit harta benda yang kita miliki, dan bukannya mencintai harta benda yang bukan milik kita, dengan memanfaatkan sesama!' Jika anda pikir bahwa cerita ini menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang - orang terdekat anda. Disini ada 'Malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya.
Kisah Nyata - Segunung Asa Hilang Di Terpa Badai
Kisah Nyata ini di kirimkan oleh salah satu teman atau salah seorang pengunjung blog saya ini. Kisah berikut di kirimkan melalui Email saya yunusman01.ym@gmail.com kisah ini di kirimkan ke email saya pada tgl 28-04-2015. Saya mohon maaf karena saya baru sempat membuka dan mengecek email masuk, dan saya juga mohon maaf, karena saya merubah gaya tulisnya. Karena, menurut saya tulisan yang dikirimkan ke email saya sangat berantakan dan tidak memiliki EYD. namun setiap bahasa dan penyampaiannya tetap sama, hanya saja tulisannya yang saya ubah.
Aku adalah seorang pemuda yang mencintai seorang janda yang memiliki anak Dua (2), Aku berhubungan dengannya kurang lebih Dua tahun, perjalanan hubungan ku dengan dia berjalan lancar. Akan tetapi pada akhirnya hubunganku dengannya berakhir dengan perpisahan.
Aku sangat menyayanginya, begitu juga dengan dia begitu menyayangi aku dan juga keluargaku. Mungkin di karenakan jodoh kami hanya sampai disini, makanya kami di pisahkan oleh sang maha tahu.
Selama kami menjalani hubungan kami yang sudah Dua (2) tahun, kami sering membicarakan soal pernikahan, dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mencari sebuah pekerjaan. Dengan dalih aku bekerja untuk mencari uang untuk modal perkawinanku dengannya.
Aku merantau ke kalimantan selama satu tahun, dan selama setahun juga dia selalu menghubungi aku melalui sms atau via telpon, dan selama itu juga aku selalu merindukannya.
Akhirnya aku bisa mengumpulkan uang yang aku pikr itu sudah cukup untuk biaya pernikahan kami, dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku, kemudian melamarnya untuk ku jadikan istriku yang sah. Berbagai asa bergelimangan di pikiranku saat itu, jika aku pulang ke kampung dan bertemu dengannya, aku ingin memeluknya dan menciumnya.
Sesampainya aku di kampung halamanku, aku langsung menuju ke rumah calon istriku. Namun di tengah perjalanan aku bertemu dengan anak pacarku, yang saat ini sudah berusia 14 tahun saat itu dia menyapaku.
"Aa, kapan pulang?" tanyanya yang memang sudah mengetahui hubunganku dengan ibunya. Dan dia pun merestui hubungan kami.
"Baru saja, Aa sampai. Dan sekarang, Aa ingin bertemu dengan, Emakmu. Emak sekarang dimana?"
"Memang, Aa gak tahu. Emak ada dimana?"
Aku merasa aneh dengan jawaba yang di berikan anak itu, kemudian aku pun kembali bertanya. "Aa, beneran gak tahu, dedek. kenapa ya selama Tiga hari ini, Emak tidak pernah sms atau telpon, Aa?"
Mendengar ucapanku anak itupun kemudian menangis dan memelukku. "Aa, Emakku sudah gak ada"
"Apa maksudmu dedek.?"
"Emak, meninggal Empat hari yang lalu, Aa"
"Apa, dedek. Kamu kalau ngomong yang benar. Jangan asal - asalan."
"Sumpah, Aa. dedek kira. Aa tahu prihal kepergian, Emak."
"Tidak, ada yang memberitahukan perihal ini ke Aa dedek."
Aku tidak menyangka kalau secepat ini dia pergi meninggalkan aku, Aku baru sadar beberapa hari hp dia tidak pernah aktif mungkin ini sebabnya dia dari semua itu. Pantas saja terakhir dia telpon aku, aku merasa ada yang aneh dengan kata - katanya, dia bilang gini ke aku.
"Yank, terima kasih banyak atas semua yang sudah kamu berikan ke aku. Aku merasakan kasih sayang kamu, cinta kamu, dan semua yang sudah kamu berikan ke aku. Aku merasakan kebahagiaan saat bersamamu. Yank, kebaikanmu, ketulusanmu, yang sudah kamu berikan ke aku akan berakhir, dan aku tidak bisa membalas semua yang sudah kamu berikan sama aku. Impian yang kita harapkan selama ini pun tidak akan pernah terjadi. Karena aku akan pergi jauh dari kamu dan orang - orang yang aku sayangi. Aku akan mendo'akanmu agar hidupmu bahagia, lebih dari saat kamu bersamaku. Aku mencintai kamu dan menyayangi kamu." Setelah dia mengatakan itu, aku los kontak dengannya.
Aku berharap semoga kejadian ini tidak terulang lagi, cukup sekali ini saja aku merasakan betapa sakitnya di tinggal orang yang paling aku sayangi.
Aku adalah seorang pemuda yang mencintai seorang janda yang memiliki anak Dua (2), Aku berhubungan dengannya kurang lebih Dua tahun, perjalanan hubungan ku dengan dia berjalan lancar. Akan tetapi pada akhirnya hubunganku dengannya berakhir dengan perpisahan.
Aku sangat menyayanginya, begitu juga dengan dia begitu menyayangi aku dan juga keluargaku. Mungkin di karenakan jodoh kami hanya sampai disini, makanya kami di pisahkan oleh sang maha tahu.
Selama kami menjalani hubungan kami yang sudah Dua (2) tahun, kami sering membicarakan soal pernikahan, dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mencari sebuah pekerjaan. Dengan dalih aku bekerja untuk mencari uang untuk modal perkawinanku dengannya.
Aku merantau ke kalimantan selama satu tahun, dan selama setahun juga dia selalu menghubungi aku melalui sms atau via telpon, dan selama itu juga aku selalu merindukannya.
Akhirnya aku bisa mengumpulkan uang yang aku pikr itu sudah cukup untuk biaya pernikahan kami, dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku, kemudian melamarnya untuk ku jadikan istriku yang sah. Berbagai asa bergelimangan di pikiranku saat itu, jika aku pulang ke kampung dan bertemu dengannya, aku ingin memeluknya dan menciumnya.
Sesampainya aku di kampung halamanku, aku langsung menuju ke rumah calon istriku. Namun di tengah perjalanan aku bertemu dengan anak pacarku, yang saat ini sudah berusia 14 tahun saat itu dia menyapaku.
"Aa, kapan pulang?" tanyanya yang memang sudah mengetahui hubunganku dengan ibunya. Dan dia pun merestui hubungan kami.
"Baru saja, Aa sampai. Dan sekarang, Aa ingin bertemu dengan, Emakmu. Emak sekarang dimana?"
"Memang, Aa gak tahu. Emak ada dimana?"
Aku merasa aneh dengan jawaba yang di berikan anak itu, kemudian aku pun kembali bertanya. "Aa, beneran gak tahu, dedek. kenapa ya selama Tiga hari ini, Emak tidak pernah sms atau telpon, Aa?"
Mendengar ucapanku anak itupun kemudian menangis dan memelukku. "Aa, Emakku sudah gak ada"
"Apa maksudmu dedek.?"
"Emak, meninggal Empat hari yang lalu, Aa"
"Apa, dedek. Kamu kalau ngomong yang benar. Jangan asal - asalan."
"Sumpah, Aa. dedek kira. Aa tahu prihal kepergian, Emak."
"Tidak, ada yang memberitahukan perihal ini ke Aa dedek."
Aku tidak menyangka kalau secepat ini dia pergi meninggalkan aku, Aku baru sadar beberapa hari hp dia tidak pernah aktif mungkin ini sebabnya dia dari semua itu. Pantas saja terakhir dia telpon aku, aku merasa ada yang aneh dengan kata - katanya, dia bilang gini ke aku.
"Yank, terima kasih banyak atas semua yang sudah kamu berikan ke aku. Aku merasakan kasih sayang kamu, cinta kamu, dan semua yang sudah kamu berikan ke aku. Aku merasakan kebahagiaan saat bersamamu. Yank, kebaikanmu, ketulusanmu, yang sudah kamu berikan ke aku akan berakhir, dan aku tidak bisa membalas semua yang sudah kamu berikan sama aku. Impian yang kita harapkan selama ini pun tidak akan pernah terjadi. Karena aku akan pergi jauh dari kamu dan orang - orang yang aku sayangi. Aku akan mendo'akanmu agar hidupmu bahagia, lebih dari saat kamu bersamaku. Aku mencintai kamu dan menyayangi kamu." Setelah dia mengatakan itu, aku los kontak dengannya.
Aku berharap semoga kejadian ini tidak terulang lagi, cukup sekali ini saja aku merasakan betapa sakitnya di tinggal orang yang paling aku sayangi.
Kisah Nyata Menginspirasi - Ada Pengorbanan Di Setiap Ketidak Perdulian
Suatu suatu hari di rumah sakit, terbaring seorang bocah kira - kira berusia sekitar 13 tahun. Bocah itu harus segera di operasi.Namun, dokter yang menangangi atau yang bertanggung jawab atas operasi anak tersebut belum juga datang.
Setelah beberapa menit setelah di telpon oleh suster. Terlihatlah dari kejauhan sang dokter yang menangi operasi si bocah sangat tergesa - gesa untuk masuk ke ruang operasi.
Namun, karena kesal Ayah dari si bocah menghampiri dan bertanya kepada sang dokter. "Kenapa lama sekali, anda baru sampai kesini? Apakah anda tidak mengetahui bahwa nyawa anak saya sedang terancam jika tidak segera di operasi?'' ucap sang Ayah dengan nada kesal.
Sang dokter kemudian tersenyum, lalu menjawab "Maaf, Pak, saya sedang tidak berada di Rumah Sakit tadi. Akan tetapi saya secepatnya datang kesini setelah di telpon oleh pihak Rumah Sakit." setelah sang dokter membela diri, kemudian dia bergegas ke ruang operasi.
Setelah beberapa jam keluarlah sang dokter dengan wajah tersenyum. "Syukurlah kondisi anak anda kini sudah stabil." tanpa menunggu jawaban sang Ayah. Dokter kemudian melanjutkan omongannya. "Suster akan membantu anda jika ada yang ingin anda tanyakan." kemudian sang dokter pun berlalu meninggalkan tempat itu.
"Kenapa dokter itu angkuh sekali? Seharusnya dia memberikan penjelasan mengenai keadaan anak saya!!!" Sang Ayah bertanya kepada suster yang ada di tempat itu.
Sambilmeneteskan air mata suster pun kemudian menjelaskan. "Dokter itu sedang dalam musibah pak. Anaknya kecelakaan kemarin sore, dan nyawanya tidak dapat di selamatkan. Tadi ketika kami menelponnya untuk melakukan operasi anak bapak, beliau sedang menguburkan jenazah anaknya. Sekarang anak anda sudah selamat. Dia bisa kembali berkabung."
Sedikit Pesan Moral :
Jangan pernah terburu - buru dalam menilai seseorang. Pahami dan maklumilah setiap jiwa di sekeliling kita. Mereka punya misi dan visi masing - masing yang berbeda - beda.
Ingatlah...
Di setiap senyuman akan ada air mata dan di balik air mata akan ada senyuman. Ada kasih sayang di setiap amarah. Ada pengorbanan di setiap ketidak perdulian. Ada harapan di sebalik setiap kesakitan dan akan ada kekecewaan di setiap derai tawa.
Semoga bermanfaat dan bisa menjadikan kita sebagai pribadi yang BIJAKSANA dan BERSYUKUR dengan apa yang di berikan sang maha pencipta dalam hidup ini.
Ingatlah, Setiap manusia mempunyai dan memiliki porsi dan masalah masing - masing... TERSENYUMLAH dalam menghadapi porsi yang di berikan kepada anda.
Setelah beberapa menit setelah di telpon oleh suster. Terlihatlah dari kejauhan sang dokter yang menangi operasi si bocah sangat tergesa - gesa untuk masuk ke ruang operasi.
Namun, karena kesal Ayah dari si bocah menghampiri dan bertanya kepada sang dokter. "Kenapa lama sekali, anda baru sampai kesini? Apakah anda tidak mengetahui bahwa nyawa anak saya sedang terancam jika tidak segera di operasi?'' ucap sang Ayah dengan nada kesal.
Sang dokter kemudian tersenyum, lalu menjawab "Maaf, Pak, saya sedang tidak berada di Rumah Sakit tadi. Akan tetapi saya secepatnya datang kesini setelah di telpon oleh pihak Rumah Sakit." setelah sang dokter membela diri, kemudian dia bergegas ke ruang operasi.
Setelah beberapa jam keluarlah sang dokter dengan wajah tersenyum. "Syukurlah kondisi anak anda kini sudah stabil." tanpa menunggu jawaban sang Ayah. Dokter kemudian melanjutkan omongannya. "Suster akan membantu anda jika ada yang ingin anda tanyakan." kemudian sang dokter pun berlalu meninggalkan tempat itu.
"Kenapa dokter itu angkuh sekali? Seharusnya dia memberikan penjelasan mengenai keadaan anak saya!!!" Sang Ayah bertanya kepada suster yang ada di tempat itu.
Sambilmeneteskan air mata suster pun kemudian menjelaskan. "Dokter itu sedang dalam musibah pak. Anaknya kecelakaan kemarin sore, dan nyawanya tidak dapat di selamatkan. Tadi ketika kami menelponnya untuk melakukan operasi anak bapak, beliau sedang menguburkan jenazah anaknya. Sekarang anak anda sudah selamat. Dia bisa kembali berkabung."
Sedikit Pesan Moral :
Jangan pernah terburu - buru dalam menilai seseorang. Pahami dan maklumilah setiap jiwa di sekeliling kita. Mereka punya misi dan visi masing - masing yang berbeda - beda.
Ingatlah...
Di setiap senyuman akan ada air mata dan di balik air mata akan ada senyuman. Ada kasih sayang di setiap amarah. Ada pengorbanan di setiap ketidak perdulian. Ada harapan di sebalik setiap kesakitan dan akan ada kekecewaan di setiap derai tawa.
Semoga bermanfaat dan bisa menjadikan kita sebagai pribadi yang BIJAKSANA dan BERSYUKUR dengan apa yang di berikan sang maha pencipta dalam hidup ini.
Ingatlah, Setiap manusia mempunyai dan memiliki porsi dan masalah masing - masing... TERSENYUMLAH dalam menghadapi porsi yang di berikan kepada anda.
Rabu, 29 April 2015
Kisah Nyata - Adikku Malaikat Kecilku
Aku terlahir dari keluarga sederhana yang hidup di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Pekerjaan orang tuaku adalah seorang petani yang setiap harinya membajak tanah kering kuning. Aku memiliki seorang adik laki - laki yang umurnya hanya selisih tiga tahun dari ku.
Kisah ku ini bermula suatu ketika aku ingin membeli sepasang sapu tangan yang mana semua siswi di sekolahku membawanya. Namun, aku takut untuk meminta uang ke orang tuaku, dan aku pun memberanikan diri untuk mencuri uang sebesar Rp 5000 di laci Ayahku.
Naas, Ayahku begitu cepat mengetahui bahwa uang di lacinya telah berkurang Rp 5000. Kemudian Ayahku mengintrograsiku dan adikku. Dengan menyuruh kami berdua menghadap ke tembok dengan sebatang bambu di tangannya. "Siapa diantara kalian yang telah mencuri uang ayah di laci?" tanya Ayah kepadaku dan adikku. Namun aku takut untuk mengatakan bahwa akulah yang telah mengambil uang itu, karena kami berdua diam membisu kemudian Ayah melanjutkan perkataannya. "Baiklaah, kalau diantara kalian berdua tidak ada yang mau mengaku, aku akan memukul kalian berdua." Dia pun mulai mengangkat batang bambu yang berada di tangannya, yang menandakan kalau beliau ingin memukul kami berdua. Akan tetapi tiba - tiba Adikku mencengkran tangan Ayah dan berkata "Ayah, aku yang melakukannya."
Batang bambu panjang itu pun kemudian menghantam punggung adikku secara bertubi - tubi. Ayahku yang sangat marah terus memukuli adikku hingga lebam dan ada beberapa bagian di punggung adikku mengeluarkan cairan merah.
Setelah beliau merasa puas memukuli adikku, Ayah kemudian memarahi kami. "Sekarang kamu mencuri di rumah, nanti kalian akan mencuri di tempat orang lain. Hal memalukan apalagi yg akan kalian lakukan di luar sana di masa mendatang? Kamu layak menerima pukulan itu, bahkan aku tak akan menyesal jika harus memukulmu sampai mati. Kamu pencuri, tidak tahu malu." Ucap Ayah yang saat tu aku lihat ingin menangis dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Seperginya Ayah, aku dan ibuku kemudian memeluk adikku, tubuhnya penuh dengan luka. Akan tetapi dia sedikit pun tidak meneteskan air mata. Aku pun kemudian meraung sekuat - kuatnya. Namun, adikku dengan tangan kecilnya menutup mulutku dan berkata. "Kak, jangan menangis lagi. Sekarang semuanya sudah terjadi."
Semenjak saat itu, aku terus membenci diriku sendiri, karena aku tidak memiliki keberanian untuk membuka mulut dan mengakui semua perbuatanku. Bertahun - tahun kejadian itu telah berlalu, namun aku selalu merasa bahwa kejadian itu baru kemarin. Aku tidak bisa melupakan raut wajah adikku saat menerima hantaman bambu panjang dari Ayah yang talah melindungiku. Saat kejadian itu, aku berusia 11 tahun dan adikku 8 tahun.
Pada saat adikku lulus SMP dan ingin melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi yaitu SMA yang berada di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, Aku di terima untuk melanjutkan ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, Ayah berjongkok di halaman rumah dengan menghisap rokok tembakaunya.
Aku mendengar percakapan antara Ayah dan ibu "Yah, kedua anak kita telah memberikan hasil yang begitu baik, hasil yang di berikannya sangat memuaskan" ucap ibu yang saat itu mengusap air mata yang mengalir di kedua pipinya yang kemudian menghela nafas panjang dan melanjutkan kata - katanya. "Namun, apa gunanya nilai bagus? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai mereka berdua sekaligus." saat itu juga aku melihat adikku berjalan keluar dan menghampiri ayah dan berkata. "Ayah, aku sudah tidak mau lagi bersekolah, aku sudah banyak membaca buku." Mendengar penuturan adikku Ayah mengayunkan tangannya dan mendaratkannya ke wajah adikku, kemudian berkata. "Mengapa kau memiliki jwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika saya harus mengemis di jalanan, Ayah akan tetap menyekolahkan kalian berdua sampai selesai." Kemudian Ayah turun dan mulai mengetuk di setiap pintu rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku pun menghampiri adikku dan mulai menjulurkan tanganku selembut mungkin ke wajah adikku yang terlihat mulai membengkak, kemudian aku berkata. "Seorang anak laki - laki harus meneruskan sekolahnya, jika tidak dia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan."
Aku pun mulai menghentikan niatku untuk melanjutkan ke universitas. Namun, siapa yang mengira jika keesokan harinya, sebelum subuh. Adikku meninggalkan rumah dengan membawa beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Malam itu dia sempat menyelinap ke kamarku dan meletakkan secarik tulisan yang bertuliskan. "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Aku akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang untuk biaya pendidikanmu." Aku yang memegangi kertas itu di atas tempat tidurku, kemudian terus - terusan menangis sampai suaraku hilang. Saat itu adikku berusia 17 tahun dan aku 20 tahun.
Dengan uang yang ayah pinjam dari seluruh rumah yang ada di dusun tempat kami tinggal, dan uang yang di kirimkan oleh adikku dari hasil mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Pada suatu hari, aku yang sedang belajar di kamarku, di kejutkan oleh teman sekamarku yang mengatakan bahwa ada seorang penduduk dusun yang sedang menunggumu di luar sana. Aku pun berpikir keras, mengapa ada seorang penduduk dusun yang mencariku? Untuk menghapus rasa penasaranku, akupun beranjak keluar. Ternyata orang yang di sebut penduduk dusun oleh temanku itu adalah adikku. Aku juga melihat seluruh tubuhnya kotor tertutup debu semen dan pasir.
"Mengapa kamu tidak mengatakan kalau kamu adalah adikku kepada temanku?" tanyaku setibanya di depan adikku.
Dengan senyum yang polos dia menjawab "Kakak lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir setelah tahu kalau aku ini adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh dengan kata - kata adikku, tanpa aku sadari aku mulai mengeluarkan air mata dan menangis. Kemudian aku menyapu seluruh debu - debu yang menepel di tubuh adikku itu, kemudian aku berkata. "Aku tidak perduli dengan omongan orang, siapapun itu, apapun itu. Walau bagamanapun juga kamu adalah adikku. Bagaimanapun penampilanmu kamu adalah adikku."
Dari dalam sakunya, dia mengeluarkan sebuah jepit ramput berbentuk kupu - kupu, kemudian ia memakaikannya kepadaku, kemudian menjelaskannya kepadaku. "Aku melihat seluruh gadis kota memakainya. Jadi, aku pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku yang tidak bisa menahan diri lebih lama lagi langsung menarik adikku itu kedalam pelukanku dan menangis. Saat itu adikku berusia 20 tahun dan aku 23 tahun.
Aku memiliki seorang pacar, dan ini adalah pertama kalinya aku membawanya untuk bertamu kerumahku. Kaca jendela yang semula aku tahu sudah pecah, ternyata sudah di ganti semua. Bukan hanya itu, seluruh isi rumah juga sangat terlihat bersih. Sepulangnya pacarku, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan rumah kita." ucapku kepada ibu.
Akan tetapi ibu hanya tersenyum kemudian dia menjelaskan. "Semua ini adalah kerjanya adikmu yang pulang lebih awal untuk membersihkan rumah ini. Apa kamu tidak melihat luka yang ada di tangannya? Ia terluka ketika mengganti semua kaca jendela itu." Aku pun kemudian berlari masuk ke ruangan kecil tempat adikku. Melihat mukanya yang begitu kurus, seratus jarum terasa menusuk tubuhku. Aku pun menggosokkan saleb ke lukanya. "Apakah itu sakit?" tanyaku
"Tiidak, Kak. Aku tidak merasakan sakit. Kakak tahu? Ketika aku bekerja di lokasi konstruksi, batu - batu berjatuhan di kakiku setiap waktu. Bahkan hal itu tidak membuatku untuk berhenti bekerja dan..." dia menghentikan perkataannya. Aku kemudian membalikkan tubuhku dan memunggunginya, seketika air mataku mengalir deras. Saat itu adikku berusia 23 tahun dan aku 26 tahun.
Saat aku menikah, aku ikut suamiku yang tinggal di kota. Aku dan suamiku sudah sangat lelah untuk mengajak keluargaku datang dan tinggal bersama kami, akan tetapi mereka tidak pernah mau. Alasannya, jika mereka meninggalkan dusun, mereka tidak tahu harus bekerja apalagi. Begitu juga dengan adikku, dia berkata "Kakak, jagalah saja mertuamu. Aku akan menjaga Ayah dan Ibu disini."
Suatu hari, Suamiku naik jabatan menjadi seorang direktur. Aku dan suamiku inginkan adikku mendapat pekerjaan sebagai manajer pada departeman pemeliharaan. Tetapi lagi - lagi adikku menolak niat baik kami.
Adikku bersikeras untuk bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari di atas tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, Ketika itu dia mendapat sengatan listrik dan masuk rumah sakit. Aku dan suamiku pergi kerumah sakit menjenguknya, melihat Gips putih berada di kakinya, aku menggerutu. "Mengapa kamu menolak untuk menjadi manajer? Kalau menjadi manajer tidak akan pernah mendapat pekerjaan yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, lukamu sangat serius. Mengapa kau tidak mau mendengarkan kakak dan abangmu?"
Dengan raut yang serius di wajahnya, dia membela keputusannya. "Kakak, pikirkan kakak ipar, ia baru saja menjadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menuruti permintaan kalian untuk menjadi manajer. Berita apa nantinya yang akan di dapatkan kakak ipar?" Mata suamiku seketika di penuhi dengan air mata. Aku pun kemudian mengeluarkan kata - kata. "Tapi kamu tidak berpendidikan juga karena aku!!!"
"Sudahlah, Kak. Jangan mengungkin masa lalu." Adikku kemudian menggenggam tanganku. Saat itu usianya 26 tahun dan aku 29 tahun
Setelah adikku menginjak usia 30 tahun, dia menikahi seorang gadis petani dari dusun di mana kami di besarkan. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya.
"Siapa orang yang paling kamu hormati dan kasihi dimuka bumi ini?"
Tanpa, bahkan mungkin tidak berpikir adikku menjawab. "Kakakku" kemudian dia melanjutkan dengan sebuah cerita usang yang bahkan aku sudah tidak mengingatnya. "Dulu, sewaktu saya dan kakakku ingin berangkat ke sekolah SD. Sekolah kami berada di dusun yang berbeda. Setiap hari aku dan kakakku harus berjalan kaki selama dua jam untuk pergi kesekolah dan pulang kerumah. Suatu hari, aku kehilangan satu dari kaus tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya menggunakan satu saja dan harus berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba dirumah, tangannya sangat gemetaran oleh cuaca yang begitu dingin, sampai - sampai ia tidak bisa memegang sendoknya. Sejak saat itu, saya kemudian bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."
Seketika suara tepuk tangan membanjiri tempat itu. Semua tamu kemudian memalingkan wajahnya ke arahku. Kata - kata yang sangat sulit terucap dari bibirku pun kemudian keluar. "Di dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mataku bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Bisakah kita memiliki jiwa yang besar seperti si adik yang seperti di dalam kisah ini???
Tapi, walau bagaimanapun juga yang namanya saudara patut kita jaga dan hormati, apakah itu seorang adik atau seorang kakak. Karena apalah arti hidup kalau tidak bisa membahagiakan saudara dan keluarga kita.
Kisah ku ini bermula suatu ketika aku ingin membeli sepasang sapu tangan yang mana semua siswi di sekolahku membawanya. Namun, aku takut untuk meminta uang ke orang tuaku, dan aku pun memberanikan diri untuk mencuri uang sebesar Rp 5000 di laci Ayahku.
Naas, Ayahku begitu cepat mengetahui bahwa uang di lacinya telah berkurang Rp 5000. Kemudian Ayahku mengintrograsiku dan adikku. Dengan menyuruh kami berdua menghadap ke tembok dengan sebatang bambu di tangannya. "Siapa diantara kalian yang telah mencuri uang ayah di laci?" tanya Ayah kepadaku dan adikku. Namun aku takut untuk mengatakan bahwa akulah yang telah mengambil uang itu, karena kami berdua diam membisu kemudian Ayah melanjutkan perkataannya. "Baiklaah, kalau diantara kalian berdua tidak ada yang mau mengaku, aku akan memukul kalian berdua." Dia pun mulai mengangkat batang bambu yang berada di tangannya, yang menandakan kalau beliau ingin memukul kami berdua. Akan tetapi tiba - tiba Adikku mencengkran tangan Ayah dan berkata "Ayah, aku yang melakukannya."
Batang bambu panjang itu pun kemudian menghantam punggung adikku secara bertubi - tubi. Ayahku yang sangat marah terus memukuli adikku hingga lebam dan ada beberapa bagian di punggung adikku mengeluarkan cairan merah.
Setelah beliau merasa puas memukuli adikku, Ayah kemudian memarahi kami. "Sekarang kamu mencuri di rumah, nanti kalian akan mencuri di tempat orang lain. Hal memalukan apalagi yg akan kalian lakukan di luar sana di masa mendatang? Kamu layak menerima pukulan itu, bahkan aku tak akan menyesal jika harus memukulmu sampai mati. Kamu pencuri, tidak tahu malu." Ucap Ayah yang saat tu aku lihat ingin menangis dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
Seperginya Ayah, aku dan ibuku kemudian memeluk adikku, tubuhnya penuh dengan luka. Akan tetapi dia sedikit pun tidak meneteskan air mata. Aku pun kemudian meraung sekuat - kuatnya. Namun, adikku dengan tangan kecilnya menutup mulutku dan berkata. "Kak, jangan menangis lagi. Sekarang semuanya sudah terjadi."
Semenjak saat itu, aku terus membenci diriku sendiri, karena aku tidak memiliki keberanian untuk membuka mulut dan mengakui semua perbuatanku. Bertahun - tahun kejadian itu telah berlalu, namun aku selalu merasa bahwa kejadian itu baru kemarin. Aku tidak bisa melupakan raut wajah adikku saat menerima hantaman bambu panjang dari Ayah yang talah melindungiku. Saat kejadian itu, aku berusia 11 tahun dan adikku 8 tahun.
Pada saat adikku lulus SMP dan ingin melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi yaitu SMA yang berada di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, Aku di terima untuk melanjutkan ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, Ayah berjongkok di halaman rumah dengan menghisap rokok tembakaunya.
Aku mendengar percakapan antara Ayah dan ibu "Yah, kedua anak kita telah memberikan hasil yang begitu baik, hasil yang di berikannya sangat memuaskan" ucap ibu yang saat itu mengusap air mata yang mengalir di kedua pipinya yang kemudian menghela nafas panjang dan melanjutkan kata - katanya. "Namun, apa gunanya nilai bagus? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai mereka berdua sekaligus." saat itu juga aku melihat adikku berjalan keluar dan menghampiri ayah dan berkata. "Ayah, aku sudah tidak mau lagi bersekolah, aku sudah banyak membaca buku." Mendengar penuturan adikku Ayah mengayunkan tangannya dan mendaratkannya ke wajah adikku, kemudian berkata. "Mengapa kau memiliki jwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika saya harus mengemis di jalanan, Ayah akan tetap menyekolahkan kalian berdua sampai selesai." Kemudian Ayah turun dan mulai mengetuk di setiap pintu rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku pun menghampiri adikku dan mulai menjulurkan tanganku selembut mungkin ke wajah adikku yang terlihat mulai membengkak, kemudian aku berkata. "Seorang anak laki - laki harus meneruskan sekolahnya, jika tidak dia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan."
Aku pun mulai menghentikan niatku untuk melanjutkan ke universitas. Namun, siapa yang mengira jika keesokan harinya, sebelum subuh. Adikku meninggalkan rumah dengan membawa beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Malam itu dia sempat menyelinap ke kamarku dan meletakkan secarik tulisan yang bertuliskan. "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Aku akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang untuk biaya pendidikanmu." Aku yang memegangi kertas itu di atas tempat tidurku, kemudian terus - terusan menangis sampai suaraku hilang. Saat itu adikku berusia 17 tahun dan aku 20 tahun.
Dengan uang yang ayah pinjam dari seluruh rumah yang ada di dusun tempat kami tinggal, dan uang yang di kirimkan oleh adikku dari hasil mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
Pada suatu hari, aku yang sedang belajar di kamarku, di kejutkan oleh teman sekamarku yang mengatakan bahwa ada seorang penduduk dusun yang sedang menunggumu di luar sana. Aku pun berpikir keras, mengapa ada seorang penduduk dusun yang mencariku? Untuk menghapus rasa penasaranku, akupun beranjak keluar. Ternyata orang yang di sebut penduduk dusun oleh temanku itu adalah adikku. Aku juga melihat seluruh tubuhnya kotor tertutup debu semen dan pasir.
"Mengapa kamu tidak mengatakan kalau kamu adalah adikku kepada temanku?" tanyaku setibanya di depan adikku.
Dengan senyum yang polos dia menjawab "Kakak lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir setelah tahu kalau aku ini adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"
Aku merasa terenyuh dengan kata - kata adikku, tanpa aku sadari aku mulai mengeluarkan air mata dan menangis. Kemudian aku menyapu seluruh debu - debu yang menepel di tubuh adikku itu, kemudian aku berkata. "Aku tidak perduli dengan omongan orang, siapapun itu, apapun itu. Walau bagamanapun juga kamu adalah adikku. Bagaimanapun penampilanmu kamu adalah adikku."
Dari dalam sakunya, dia mengeluarkan sebuah jepit ramput berbentuk kupu - kupu, kemudian ia memakaikannya kepadaku, kemudian menjelaskannya kepadaku. "Aku melihat seluruh gadis kota memakainya. Jadi, aku pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku yang tidak bisa menahan diri lebih lama lagi langsung menarik adikku itu kedalam pelukanku dan menangis. Saat itu adikku berusia 20 tahun dan aku 23 tahun.
Aku memiliki seorang pacar, dan ini adalah pertama kalinya aku membawanya untuk bertamu kerumahku. Kaca jendela yang semula aku tahu sudah pecah, ternyata sudah di ganti semua. Bukan hanya itu, seluruh isi rumah juga sangat terlihat bersih. Sepulangnya pacarku, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan rumah kita." ucapku kepada ibu.
Akan tetapi ibu hanya tersenyum kemudian dia menjelaskan. "Semua ini adalah kerjanya adikmu yang pulang lebih awal untuk membersihkan rumah ini. Apa kamu tidak melihat luka yang ada di tangannya? Ia terluka ketika mengganti semua kaca jendela itu." Aku pun kemudian berlari masuk ke ruangan kecil tempat adikku. Melihat mukanya yang begitu kurus, seratus jarum terasa menusuk tubuhku. Aku pun menggosokkan saleb ke lukanya. "Apakah itu sakit?" tanyaku
"Tiidak, Kak. Aku tidak merasakan sakit. Kakak tahu? Ketika aku bekerja di lokasi konstruksi, batu - batu berjatuhan di kakiku setiap waktu. Bahkan hal itu tidak membuatku untuk berhenti bekerja dan..." dia menghentikan perkataannya. Aku kemudian membalikkan tubuhku dan memunggunginya, seketika air mataku mengalir deras. Saat itu adikku berusia 23 tahun dan aku 26 tahun.
Saat aku menikah, aku ikut suamiku yang tinggal di kota. Aku dan suamiku sudah sangat lelah untuk mengajak keluargaku datang dan tinggal bersama kami, akan tetapi mereka tidak pernah mau. Alasannya, jika mereka meninggalkan dusun, mereka tidak tahu harus bekerja apalagi. Begitu juga dengan adikku, dia berkata "Kakak, jagalah saja mertuamu. Aku akan menjaga Ayah dan Ibu disini."
Suatu hari, Suamiku naik jabatan menjadi seorang direktur. Aku dan suamiku inginkan adikku mendapat pekerjaan sebagai manajer pada departeman pemeliharaan. Tetapi lagi - lagi adikku menolak niat baik kami.
Adikku bersikeras untuk bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari di atas tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, Ketika itu dia mendapat sengatan listrik dan masuk rumah sakit. Aku dan suamiku pergi kerumah sakit menjenguknya, melihat Gips putih berada di kakinya, aku menggerutu. "Mengapa kamu menolak untuk menjadi manajer? Kalau menjadi manajer tidak akan pernah mendapat pekerjaan yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, lukamu sangat serius. Mengapa kau tidak mau mendengarkan kakak dan abangmu?"
Dengan raut yang serius di wajahnya, dia membela keputusannya. "Kakak, pikirkan kakak ipar, ia baru saja menjadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menuruti permintaan kalian untuk menjadi manajer. Berita apa nantinya yang akan di dapatkan kakak ipar?" Mata suamiku seketika di penuhi dengan air mata. Aku pun kemudian mengeluarkan kata - kata. "Tapi kamu tidak berpendidikan juga karena aku!!!"
"Sudahlah, Kak. Jangan mengungkin masa lalu." Adikku kemudian menggenggam tanganku. Saat itu usianya 26 tahun dan aku 29 tahun
Setelah adikku menginjak usia 30 tahun, dia menikahi seorang gadis petani dari dusun di mana kami di besarkan. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya.
"Siapa orang yang paling kamu hormati dan kasihi dimuka bumi ini?"
Tanpa, bahkan mungkin tidak berpikir adikku menjawab. "Kakakku" kemudian dia melanjutkan dengan sebuah cerita usang yang bahkan aku sudah tidak mengingatnya. "Dulu, sewaktu saya dan kakakku ingin berangkat ke sekolah SD. Sekolah kami berada di dusun yang berbeda. Setiap hari aku dan kakakku harus berjalan kaki selama dua jam untuk pergi kesekolah dan pulang kerumah. Suatu hari, aku kehilangan satu dari kaus tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya menggunakan satu saja dan harus berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba dirumah, tangannya sangat gemetaran oleh cuaca yang begitu dingin, sampai - sampai ia tidak bisa memegang sendoknya. Sejak saat itu, saya kemudian bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."
Seketika suara tepuk tangan membanjiri tempat itu. Semua tamu kemudian memalingkan wajahnya ke arahku. Kata - kata yang sangat sulit terucap dari bibirku pun kemudian keluar. "Di dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mataku bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Bisakah kita memiliki jiwa yang besar seperti si adik yang seperti di dalam kisah ini???
Tapi, walau bagaimanapun juga yang namanya saudara patut kita jaga dan hormati, apakah itu seorang adik atau seorang kakak. Karena apalah arti hidup kalau tidak bisa membahagiakan saudara dan keluarga kita.
Selasa, 28 April 2015
Kisah Nyata - Ungkapan Hati Seorang Anak
Kisah berikut yang akan saya ceritakan adaah sebuah kisah dan cerita ungkapan dan Curahan hati, yang mengisahkan tentang betapa besar kasih sayang yang ibu berikan. Kasih sayang yang tulus yang ia berikan tanpa mengharap balasan apa - apa.
Ibu bisa kita ibaratkan sebagai muara kasih, yang penuh cinta dan kasih sayang, tapi tidak jarang kita sebagai seorang anak, melupakan hal itu, kita bukan membuatnya bangga tetapi malah membuatnya menangis. begitu juga yang pernah dan sangat sering saya lakukan.
Ini adalah kisah ku, kisah penyesalan, karna AKU SERING MEMBUAT IBU MENANGIS. Aku adalah seorang anak terakhir dari empat bersaudara yang tinggal di sebuah kota kecil di Sumatera Selatan. Aku rasa aku adalah anak yang paling beruntung karena mempunyai kedua orang tua yang sangat menyayangi ku. Terutama ibu....
Pada suatu waktu, saat itu ketika aku berumur 9 tahun, aku masih duduk di bangku kelas 3 SD. Hari itu (saya lupa hari apa tepatnya) aku pulang cepat dari sekolah karena guru rapat, dan aku pun langsung berencana untuk main dengan teman2 sepulang dari sekolah.. Ketika sampai dirumah, terlihat ibu berdiri di teras, menunggu ku yang sudah terlihat dari kejauhan. Dia pun menyambutku, mengajak ku masuk dan mengganti pakaian ku, lalu menyuruh ku makan, tapi aku langsung menolak karna aku ingin main dengan teman - teman yang sudah menunggu ku. Ibu melarang, dan baru mengizinkan pergi setelah aku makan. Aku marah, lalu langsung lari keluar rumah, ibu mengejar ku sambil berteriak memanggil nama ku. aku terus berlari dan tidak memperdulikannya. Ketika aku menyebrang jalan. Tiba - tiba aku mendengar suara deritan rem mobil, dan ada sebuah benda keras yang menghantam tubuh ku. Dan aku tidak tahu apa2 lagi.
Yang aku tahu ketika aku terbangun, yang ku rasakan sekujur tubuh ku terasa sakit dan ngilu, dan ku lihat disamping ku, ibu sedang menangis, dan tiba2 ia tersenyum saat melihat aku sadar. lalu dia mencium ku dan menangis lagi. Lalu aku bertanya... "Kenapa ibu menangis, apakah ibu marah kepada saya?" lalu ibu menjawab. "tidak sayang, ibu tidak marah marah, tapi ibu hanya sedih karena ibu tidak bisa menjaga kamu". mendengar itupun aku diam.
Setelah kejadian itu, aku selalu berusaha untuk menuruti kata - kata ibu, karna aku tidak mau membuat ibu menangis lagi.
Tapi suatu waktu, saat itu aku duduk di kelas 2 SMP. Karena pengaruh teman - teman, aku melakukan sebuah kesalahan yang amat besar. aku dan 3 orang temanku mengeroyok seorang siswa baru sampai dia babak belur dan masuk rumah sakit. Karena kejadian itu kepala sekolah memanggil ibu dan mengatakan kalau aku dikeluarkan dari sekolah, tentu saja ibu berusaha dengan sekuat tenaga agar kepala sekolah bisa memberi keringanan. Tapi kepala sekolah mengatakan itu adalah tuntutan dari orang tua siswa yang kami keroyok. Tapi ibu tidak menyerah, ibu memberanikan diri dan memprtaruhkan harga dirinya untuk memohon kepada orang tua siswa tersebut untuk mencabut tuntutannya. melihat kesungguhan ibu, akhirnya tuntutan itu pun dicabut dan aku tidak dikeluarkan dari sekolah. Setelah kejadian itu, ibu mengacuhkan aku, dia tidak pernah mau menyapa dan tidak lagi memperdulikan ku. Ke esokan harinya, ketika ayah pulang dari luar kota, ayah langsung murka setelah tau apa yang telah terjadi, ayah menempeleng dan menghajarku sampai aku tidak bisa berbicara dan berdiri lagi. Ketika ayah ingin memberikan pukulan selanjutnya, tiba - tiba ibu berlari ke arah ku dan memelukku sambil menangis. Dia memohon kapada ayah untuk berhenti menghukumku. Lalu ayah pun pergi.
Setelah ayah pergi, ibu menggendongku ke kamar, diletakkannya aku di atas kasur dan obatinya lukaku, aku hanya bisa meringis sambil menangis, tapi tak bisa bersuara, terlihat olehku ibu juga menangis, deras sekali tangisannya dan dia juga tidak bersuara. Dia mengusap semua luka -luka ku, lalu dia menciumku. Terbata - bata lalu aku berkata..."Ibu, maafkan aku. Ibu jangan menangis, apakah ibu marah pada ku?' lalu ibu menjawab. "Tidak nak, ibu menangis bukan karena ibu marah, tapi karena ibu tidak bisa melindungimu"
Mendengar ibu berkata seperti itu, aku menangis lebih kencang lalu memeluk ibu, dan dalam hati aku berjanji tak kan membuat ibu menangis lagi.
Waktu pun berganti, tak terasa aku sudah lulus SMA, dan dalam kurun waktu itu, aku sangat senang karena aku tak pernah membuat ibu menangis.
Tapi ketika tiba waktu aku harus pergi ke keluar kota untuk mencoba mengadu nasib. Aku berpamitan sebelum pergi, aku memeluk ayah, kakak-kakak, dan terakhir ibu...
Kulihat ibu menangis, tapi terlihat sekali dia mencoba menahan tangisannya sehingga yang terdengar hanya desahan - desahan kecil yang semakin terdengar pilu.
Lalu aku memeluk ibu, aku mencium nya dan mengusap air matanya. Kemudian aku bertanya.. "Ibu, kenapa ibu menangis? apakah ibu tidak ingin aku pergi?"
Kemudian ibu menjawab. "Tidak nak, ibu menangis bukan karena ibu tidak ingin kau pergi, tapi ibu menangis karna ibu tak tau kapan kau akan kembali" ia menjawab sambil menangis dan bagi ku itu adalah kesedihan ku.....
"Ibu jangan khawatir, aku akan segera kembali untuk ibu" lalu aku pun melangkahkan kaki, naik ke bus sambil melambaikan tangan pada mereka, mereka juga melambaikan tangan, kecuali ibu yang hanya mematung dengan mata yang berurai air mata. Tak terasa air mataku jatuh, aku membayangkan ibu, pelukannya, ciumannya dan kasih sayang nya, yang pasti akan sangat aku rindukan "IBU AKU AKAN KEMBALI UNTUKMU" bisikku dalam hati
Tak terasa, setelah setahun bekerja diluar kota, aku akhirnya memutuskan untuk pulang, menemui keluarga, dan pastinya Ibu yang sudah sangat aku rindukan.
Ketika aku tiba, terlihat mereka semua sudah menungguku di terminal. Terlihat ayah, kakak, dan ibu disana. Aku melihat ibu, dia semakin tua, dan aku tiba - tiba membayangkan tangisannya. Dalam hati aku bertanya apakah ibu akan menangis???
Aku turun dari bus dan langsung menemui mereka. ku peluk ayah, ku peluk kk, dan akhirnya kupeluk orang yang sangat ku rindukan, IBU...
Ibu tidak menangis, tidak sama sekali. Malah dia tersenyum melihatku.
Melihat itu tiba - tiba air mataku jatuh dan aku menangis. Ibu lalu mengusap air mata ku. Kemudian bertanya. "Nak, mengapa kau menangis?? apa kau tidak bahagia bertemu ibu?"
Lalu aku menjawab. "Aku menangis bukan karena tidak bahagia menemui ibu. Tapi aku menangis karena teringat betapa sering AKU MEMBUAT IBU MENANGIS...."
Kemudian ibu pun menangis dan kami berpelukan.
IBU AKU MENCINTAIMU. Dan aku berjanji aku tak kan membuatmu menangis lagi, karna tangisanmu adalah kesedihanku dan senyumanmu adalah kebahagiaan ku...
Ibu bisa kita ibaratkan sebagai muara kasih, yang penuh cinta dan kasih sayang, tapi tidak jarang kita sebagai seorang anak, melupakan hal itu, kita bukan membuatnya bangga tetapi malah membuatnya menangis. begitu juga yang pernah dan sangat sering saya lakukan.
Ini adalah kisah ku, kisah penyesalan, karna AKU SERING MEMBUAT IBU MENANGIS. Aku adalah seorang anak terakhir dari empat bersaudara yang tinggal di sebuah kota kecil di Sumatera Selatan. Aku rasa aku adalah anak yang paling beruntung karena mempunyai kedua orang tua yang sangat menyayangi ku. Terutama ibu....
Pada suatu waktu, saat itu ketika aku berumur 9 tahun, aku masih duduk di bangku kelas 3 SD. Hari itu (saya lupa hari apa tepatnya) aku pulang cepat dari sekolah karena guru rapat, dan aku pun langsung berencana untuk main dengan teman2 sepulang dari sekolah.. Ketika sampai dirumah, terlihat ibu berdiri di teras, menunggu ku yang sudah terlihat dari kejauhan. Dia pun menyambutku, mengajak ku masuk dan mengganti pakaian ku, lalu menyuruh ku makan, tapi aku langsung menolak karna aku ingin main dengan teman - teman yang sudah menunggu ku. Ibu melarang, dan baru mengizinkan pergi setelah aku makan. Aku marah, lalu langsung lari keluar rumah, ibu mengejar ku sambil berteriak memanggil nama ku. aku terus berlari dan tidak memperdulikannya. Ketika aku menyebrang jalan. Tiba - tiba aku mendengar suara deritan rem mobil, dan ada sebuah benda keras yang menghantam tubuh ku. Dan aku tidak tahu apa2 lagi.
Yang aku tahu ketika aku terbangun, yang ku rasakan sekujur tubuh ku terasa sakit dan ngilu, dan ku lihat disamping ku, ibu sedang menangis, dan tiba2 ia tersenyum saat melihat aku sadar. lalu dia mencium ku dan menangis lagi. Lalu aku bertanya... "Kenapa ibu menangis, apakah ibu marah kepada saya?" lalu ibu menjawab. "tidak sayang, ibu tidak marah marah, tapi ibu hanya sedih karena ibu tidak bisa menjaga kamu". mendengar itupun aku diam.
Setelah kejadian itu, aku selalu berusaha untuk menuruti kata - kata ibu, karna aku tidak mau membuat ibu menangis lagi.
Tapi suatu waktu, saat itu aku duduk di kelas 2 SMP. Karena pengaruh teman - teman, aku melakukan sebuah kesalahan yang amat besar. aku dan 3 orang temanku mengeroyok seorang siswa baru sampai dia babak belur dan masuk rumah sakit. Karena kejadian itu kepala sekolah memanggil ibu dan mengatakan kalau aku dikeluarkan dari sekolah, tentu saja ibu berusaha dengan sekuat tenaga agar kepala sekolah bisa memberi keringanan. Tapi kepala sekolah mengatakan itu adalah tuntutan dari orang tua siswa yang kami keroyok. Tapi ibu tidak menyerah, ibu memberanikan diri dan memprtaruhkan harga dirinya untuk memohon kepada orang tua siswa tersebut untuk mencabut tuntutannya. melihat kesungguhan ibu, akhirnya tuntutan itu pun dicabut dan aku tidak dikeluarkan dari sekolah. Setelah kejadian itu, ibu mengacuhkan aku, dia tidak pernah mau menyapa dan tidak lagi memperdulikan ku. Ke esokan harinya, ketika ayah pulang dari luar kota, ayah langsung murka setelah tau apa yang telah terjadi, ayah menempeleng dan menghajarku sampai aku tidak bisa berbicara dan berdiri lagi. Ketika ayah ingin memberikan pukulan selanjutnya, tiba - tiba ibu berlari ke arah ku dan memelukku sambil menangis. Dia memohon kapada ayah untuk berhenti menghukumku. Lalu ayah pun pergi.
Setelah ayah pergi, ibu menggendongku ke kamar, diletakkannya aku di atas kasur dan obatinya lukaku, aku hanya bisa meringis sambil menangis, tapi tak bisa bersuara, terlihat olehku ibu juga menangis, deras sekali tangisannya dan dia juga tidak bersuara. Dia mengusap semua luka -luka ku, lalu dia menciumku. Terbata - bata lalu aku berkata..."Ibu, maafkan aku. Ibu jangan menangis, apakah ibu marah pada ku?' lalu ibu menjawab. "Tidak nak, ibu menangis bukan karena ibu marah, tapi karena ibu tidak bisa melindungimu"
Mendengar ibu berkata seperti itu, aku menangis lebih kencang lalu memeluk ibu, dan dalam hati aku berjanji tak kan membuat ibu menangis lagi.
Waktu pun berganti, tak terasa aku sudah lulus SMA, dan dalam kurun waktu itu, aku sangat senang karena aku tak pernah membuat ibu menangis.
Tapi ketika tiba waktu aku harus pergi ke keluar kota untuk mencoba mengadu nasib. Aku berpamitan sebelum pergi, aku memeluk ayah, kakak-kakak, dan terakhir ibu...
Kulihat ibu menangis, tapi terlihat sekali dia mencoba menahan tangisannya sehingga yang terdengar hanya desahan - desahan kecil yang semakin terdengar pilu.
Lalu aku memeluk ibu, aku mencium nya dan mengusap air matanya. Kemudian aku bertanya.. "Ibu, kenapa ibu menangis? apakah ibu tidak ingin aku pergi?"
Kemudian ibu menjawab. "Tidak nak, ibu menangis bukan karena ibu tidak ingin kau pergi, tapi ibu menangis karna ibu tak tau kapan kau akan kembali" ia menjawab sambil menangis dan bagi ku itu adalah kesedihan ku.....
"Ibu jangan khawatir, aku akan segera kembali untuk ibu" lalu aku pun melangkahkan kaki, naik ke bus sambil melambaikan tangan pada mereka, mereka juga melambaikan tangan, kecuali ibu yang hanya mematung dengan mata yang berurai air mata. Tak terasa air mataku jatuh, aku membayangkan ibu, pelukannya, ciumannya dan kasih sayang nya, yang pasti akan sangat aku rindukan "IBU AKU AKAN KEMBALI UNTUKMU" bisikku dalam hati
Tak terasa, setelah setahun bekerja diluar kota, aku akhirnya memutuskan untuk pulang, menemui keluarga, dan pastinya Ibu yang sudah sangat aku rindukan.
Ketika aku tiba, terlihat mereka semua sudah menungguku di terminal. Terlihat ayah, kakak, dan ibu disana. Aku melihat ibu, dia semakin tua, dan aku tiba - tiba membayangkan tangisannya. Dalam hati aku bertanya apakah ibu akan menangis???
Aku turun dari bus dan langsung menemui mereka. ku peluk ayah, ku peluk kk, dan akhirnya kupeluk orang yang sangat ku rindukan, IBU...
Ibu tidak menangis, tidak sama sekali. Malah dia tersenyum melihatku.
Melihat itu tiba - tiba air mataku jatuh dan aku menangis. Ibu lalu mengusap air mata ku. Kemudian bertanya. "Nak, mengapa kau menangis?? apa kau tidak bahagia bertemu ibu?"
Lalu aku menjawab. "Aku menangis bukan karena tidak bahagia menemui ibu. Tapi aku menangis karena teringat betapa sering AKU MEMBUAT IBU MENANGIS...."
Kemudian ibu pun menangis dan kami berpelukan.
IBU AKU MENCINTAIMU. Dan aku berjanji aku tak kan membuatmu menangis lagi, karna tangisanmu adalah kesedihanku dan senyumanmu adalah kebahagiaan ku...
Minggu, 26 April 2015
Kisah Nyata - Cuap Seorang Yang Bosan Hidup
Pada suatu hari ada seorang pria setengah baya mendatangi seorang guru ngaji, kemudian bertanya
''Ustad, saya sudah bosan hidup. Saya sudah lelah. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Rasanya ingin saya akhiri saja kehidupan ini.''
Sang Ustad pun tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Ustad, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ustad meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, "Alergi Hidup". Ya, kamu alergi terhadap kehidupan." pak ustad terdiam sejenak kemudian melanjutkan ucapannya. "Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga,bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita. Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku. demikian ujar sang Ustad.
"Tidak Ustad, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang Ustad.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?" ucap pak ustad dengan nada sedikit agak berat.
"Ya, pak ustad, saya sudah bosan hidup."
"Baik, kalau begitu keputusanmu. besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."
Sekarang Giliran si pria paruh baya itu yang menjadi bingung. Setiap Ustad yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Tapi ustadz yang satu ini aneh. Malahan ia yang bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Sesampainya dirumah, pria paruh baya itu langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh Ustad edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang.
Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu." Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya.
Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, "Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas."
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya?"
Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.
Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu."
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua."
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya? "Ya Allah, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Allah. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini." Kemudian ia berinisiatif untuk meminta penawar racun kepada pak ustad
Ia pun buru-buru mendatangi sang Ustad yang telah memberi racun kepadanya. Sesampainya dirumah ustad tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.
Apa yg terjadi, melihat wajah pria itu, rupanya sang Ustad langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sang ustad pun berkata. "Buang saja botol itu. Isinya air biasa kok.. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kepasrahan, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan.
Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan. percayalah .. Allah bersama kita."
Lalu Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Ustad, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya dunia ini
''Ustad, saya sudah bosan hidup. Saya sudah lelah. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Rasanya ingin saya akhiri saja kehidupan ini.''
Sang Ustad pun tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Ustad, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ustad meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, "Alergi Hidup". Ya, kamu alergi terhadap kehidupan." pak ustad terdiam sejenak kemudian melanjutkan ucapannya. "Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga,bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita. Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku. demikian ujar sang Ustad.
"Tidak Ustad, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang Ustad.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?" ucap pak ustad dengan nada sedikit agak berat.
"Ya, pak ustad, saya sudah bosan hidup."
"Baik, kalau begitu keputusanmu. besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."
Sekarang Giliran si pria paruh baya itu yang menjadi bingung. Setiap Ustad yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Tapi ustadz yang satu ini aneh. Malahan ia yang bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Sesampainya dirumah, pria paruh baya itu langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh Ustad edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang.
Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu." Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya.
Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, "Mas, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas."
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya?"
Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.
Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu."
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu stres karena perilaku kami semua."
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya? "Ya Allah, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematian itu ya Allah. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia ini." Kemudian ia berinisiatif untuk meminta penawar racun kepada pak ustad
Ia pun buru-buru mendatangi sang Ustad yang telah memberi racun kepadanya. Sesampainya dirumah ustad tersebut, pria itu langsung mengatakan bahwa ia akan membatalkan kematiannya. Karena ia takut sekali jika ia harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat dia menjadi hidup kembali.
Apa yg terjadi, melihat wajah pria itu, rupanya sang Ustad langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sang ustad pun berkata. "Buang saja botol itu. Isinya air biasa kok.. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kepasrahan, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan.
Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan. percayalah .. Allah bersama kita."
Lalu Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Ustad, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Ah, indahnya dunia ini
Langganan:
Postingan (Atom)



